Kerja Kelompok, Haruskah?


  
Sudah menjadi naluri manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya. Nah terdapat beberapa metode salah satunya adalah dengan bekerja kelompok. Namun apakah dengan bekerja Secara kelompok secara harfiah dapat menyelesaikan sebuah masalah?

Saya mengambil dari sudut pandang dunia pendidikan, Contohnya secara mudah adalah berkelompok untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen maupun guru. Maksud dari pemberi tugas adalah meringankan beban antar individu karena pekerjaan tersebut dapat dilakukan sesuai bagian-bagiannya. Namun berdasarkan realita yang terjadi, harapan tersebut lambat laun menjadi pupus sehingga menimbulkan pertanyaan Apakah kerja kelompok harus dilakukan?


Apakah masalahnya?

Kerja kelompok memerlukan sebuah perhitungan yang seimbang antara pekerjaan yang ada dengan kemampuan dan kuantitas individu dalam kelompok. Hal ini yang menyebabkan bahwa kuantitas dalam kelompok merupakan pisau bermata dua.

Nah beberapa masalah yang terjadi karena kendala tersebut antara lain

  • Banyak yang masih mengerjakan secara individu tanpa koordinasi
  • Jenjang pengetahuan yang jauh
  • Introversion
  • Ragu dengan kemampuan diri sendiri
  • Ketidak mandirian antar individu
Mari kita bahas satu persatu.

Pengerjaan tanpa koordinasi Merupakan masalah awal yang sering dihadapi jika deadline dari pekerjaan tersebut masih jauh sehingga cenderung meremehkan dan menunda-nunda sehingga ketika tiba beberapa hari sebelum deadline, kordinasi akan menjadi kacau. Contoh mudahnya adalah kesulitan mengatur koordinasi untuk melakan waktu berkumpul membahas mengenai pekerjaan tersebut

Jenjang pengetahuan yang terlampau jauh. Masalah yang satu ini pernah saya alami sendiri dimana saya merupakan orang yang paling muda dan masih belum memiliki ilmu yang memadai dalam melakukan pekerjaan tersebut. Walaupun anda yakin, atau lebih tepatnya mampu dalam melakukan pekerjaan tersebut, namun bukan andalah yang memegang kontrol dari pembagian pekerjaan dalam kelompok tersebut sehingga anda dipandang "sebelah mata" dan akhirnya mendapatkan bagian-bagian yang bersifat opsional, atau bahkan tidak ada campur tangan terhadap pekerjaan tersebut. Inilah yang mendasari bahwa mengetahui kemampuan dari masing-masing individu sehingga pembagian pekerjaan menjadi tepat sasaran dan efektif.

Introversion. Adalah individu yang menganggap bahwa kerja kelompok tidak akan menyellesaikan masalah, terlalu banyak masalah tambahan mengenai kelompok tersebut sebelum sebelum masalah utama diselesaikan seperti 2 contoh diatas. Individu seperti ini lebih senang menyendiri dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Mereka tidak mudah percaya terhadap kemampuan individu lain. Solusi yang paling utama dari masalah ini adalah meyakinkan individu yang memiliki kepribadian tersebut dengan seseorang yang bisa sangat dipercaya, minimal seorang yang mampu menjadi sebuah kran menyampaikan ide-ide dari seorang yang introvert.

Ragu dengan kemampuan diri sendiri. Jujur saja, Bagian ini adalah bagian yang paling menjengkelkan dalam sebuah kelompok. Masalahnya mereka telah kalah sebelum berperang, 

         "Aku ngga bisa ngoding, kamu aja ya yang buat"

Suck!. Benar-benar kalimat yang menjengkelkan. Inilah yang membuat kita harus kembali ke poin kedua. Seseorang tidak dapat menilai dirinya sendiri, secara fisiologis manusia tidak diciptakan untuk secara mudah mencari kelemahan dan kelebihan secara akuran dari dalam dirinya. Orang lainlah yang mampu melakukannya. Se-Gak Bisa-Bisanya Orang, Mereka akan mampu melakukan suatu hal.

Ketidak mandirian antar individu. Berkebalikan dengan seorang Introvert, Mereka tidak akan mampu berpikir sendiri tanpa persetujuan individu lain. Terdapat beberapa tipe perndingan dalam kelompok dimana proses brainstorming dilakukan saat rundingan tersebut dilangsungkan

       "Gimana nih enaknya?"

Adalah kata yang sangat membuat telinga saya panas. Nah terus selama ini kamu ngapain? nungguin kumpul tanpa punya ide?. Hal ini pula yang paling dibenci oleh seorang Introvert yang mengerjakannya sendiri, baik dalam memunculkan ide, hampir selesai, atau setengah jalan, seorang mengatakan hal tersebut tanpa dasar alias nekat. Asu!

Perbaiki diri sendiri merupakan solusinya atau perbaikan susunan kata tersebut menjadi

       "Gimana nih bagian xxx? aku kemarin punya pemikiran yyy mungkin bisa bantu"

penggunaan kalimat retois untuk mengawali sebuah pendapat merupakan hal yang dapat membuat Eargasm. Hal itu menandakan bahwa dia mampu memahami masalah dan setidaknya berusaha dalam mencoba menyelesaikan masalah secara spesifik dan membantu pekerjaan dalam bagian itu.

Lantas bagaimanakah cara membentuk kelompok yang seimbang?

Cara yang saya berkan merupakan hasil pemikiran subjektif . dengan beberapa pertimbangan, namun juga tidak berlaku disegala kasus. saya memandang jauh beberapa metode pemilihan kelompok sehingga dapat melakukan perbaikan atau penyanggahan terhadap cara yang telah ada

Pretest. Cara klasik untuk menentukan kelompok berdasarkan kemampuan tiap individu. cara ini cukup saya dukung. namun terdapat masalah dalam pengelompokannya. Banyak yang menglompokkan dimana dalam satu kelompok terdapat individu yang kompeten dan kurang kompeten. nah disini masalahnya, individu yang kurang kompeten akan berpotensi besar menggantungkan pekerjaanya terhadap yang kompeten sehingga akan muncul kata "Gimana" dimana-mana dan merasa aman karena terdapat individu yang kompeten yang telah mewakili dirinya

Tidak menganjurkan, namun saya memiliki pendapat bahwa pengelompokan terbaik adalah dengan cara mempertemukan yang homogen menjadi satu. Para kompeten bertemu dengan kompeten, Kurang kompeten bertemu dengan kurang kompeten. Mengapa? bukannya malah menjadikan hasilnya buruk?. Tidak. Para kurang kompeten akan mengalami panik karena tidak ada yang dibuat untuk bergantung. Jika mandirinya tinggi, mereka akan memaksa diri mereka belajar dari kelompok yang kompeten. Kondisi mereka yang homogen akan memicu adanya solidaritas dan kerjasama yang tinggi.

***

Kesimpulannya adalah tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dengan kerjasama yang menimbulkan sehingga terdapat beberapa keseimbangan pembagian pekerjaan dimasing-masing individu. Tingkat kompetensi juga mempengaruhi kesuksesan kerjasama, Mandiri, Kreatif, dan Kerja keras dan Kerja Cerdas.
First

1 komentar:

Write komentar